logo


Belajar dari Kartini, Faye Simanjuntak Menjelma Sebagai Aktivis Pembela Hak-hak Perempuan

ahun 2013 lalu, remaja yang sekarang berusia 15 tahun ini, telah berhasil mendirikan “Rumah Faye”. sebuah organisasi yang secara khusus menangani masalah prostitusi anak.

10 April 2017 12:39 WIB

Faye Simanjuntak
Faye Simanjuntak Dok. Jitunews.com

SOLO, JITUNEWS.COM - Menjelang tanggal 21 April 2017, warga Indonesia kembali mengingat sosok Kartini. Seorang perempuan Jawa yang lahir sebagai pahlawan atas ketidaksetaraan kaumnya. Stigma wanita Jawa yang hanya sebagai konco wingking saat itu, membuat Kartini berpikir bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Wanita tidak hanya hidup untuk menikah dan menemani suaminya, melainkan memiliki hak belajar dan mengenyam ilmu pengetahuan.

Hari Kartini, Grace Dambakan Peran Wanita Indonesia di Kancah Politik

Perasaan senasib telah menuntun Kartini menjadi sosok pembela kaumnya. Jiwa peduli terhadap sesama yang ada dalam diri Kartini, kini kita temukan kembali dalam diri Faye Simanjuntak. Ia adalah seorang remaja putri yang berjuang untuk membela anak-anak seusianya, dari ganasnya perdagangan dan prostitusi anak. “Ada aja orang yang ingin memperdagangkan anak, dan anak itu usianya sama kaya aku. Kalau aku lahir di keluarga yang beda, bisa aja itu aku,” tutur Faye saat ditemui tim Jitunews di Rumah Dinas Danrem Maruli Simanjuntak, Minggu (10/4).

Tahun 2013 lalu, remaja yang sekarang berusia 15 tahun ini, telah berhasil mendirikan “Rumah Faye”. sebuah organisasi yang secara khusus menangani masalah prostitusi anak. Siswi kelas sepuluh Jakarta Intercultural School (JIS) tersebut beberapa kali melihat kasus prostitusi anak yang terjadi di sekitarnya.


Hari Kartini, Satgas Pamtas Lintas Udara 431/SSP Gelar Karnaval Anak

Gadis berambut lurus ini mengatakan bahwa memang sekarang ini sudah tidak ada lagi kesenjangan gender. Tetapi permasalahan lain yang masih berdampak pada perempuan justru muncul, seperti prostitusi. Gadis berkulit putih ini juga menyayangkan bahwa belum banyak masyarakat yang memperdulikan hal itu.

Putri pertama Maruli Simanjuntak tersebut menuturkan bahwa perdagangan anak bukan masalah pemerintah sepenuhnya, melainkan masalah seluruh warga Indonesia. Pemerintah memang bertugas untuk mengeluarkan kebijakan hukum, tetapi pemerintah tidak harus bertanggung jawab sepenuhnya. Tanpa peran dari masyarakat, perubahan tidak akan pernah terjadi.

Pecinta lagu Kartini ini berharap bahwa masyarakat lebih peduli terhadap anak-anak korban prostitusi. Remaja yang lahir pada tanggal 10 April ini juga mengatakan bahwa masyarakat belum sepenuhnya sadar bahwa perdagangan anak adalah masalah besar.

Saat ini Rumah Faye memiliki lebih dari 100 relawan. Dalam aktivitasnya, terdapat tiga tahapan yang dilakukan untuk menolong korban prostitusi anak. Di antaranya adalah pembebasan, pencegahan dan pemulihan. Selain bekerja sama dengan penegak hukum, Rumah Faye juga menjalin kerja sama dengan LSM dan organisasi lain.

Menyambut hari Kartini, Faye berharap bahwa wanita Indonesia mampu menanamkan pemikiran bahwa mereka adalah sesuatu yang berharga. Akan ada waktu dimana orang menganggap bahwa wanita tidak bisa melakukan apa-apa, dan sebagai Kartini muda, seorang wanita harus bisa membuktikan bahwa kaum yang selama ini dianggap lemah justru bisa melakukan sesuatu yang berharga. “Kita adalah perubahan, negara ini is full of opportunities, full of people who loves you, and you can make something different.”

Seperti halnya Kartini yang dikecam banyak orang atas protesnya terhadap aturan dan budayanya, pada awalnya, Faye sempat mendapatkan penolakan dari lingkungan, bahkan keluarga. “Jadi awalnya aku merasa sakit hati karena mereka bilang aku nggak bisa. Tapi you know, aku tuh malah harus buktikan kalau aku tuh bisa,” ungkap Faye.

 

Rayakan Hari Kartini, Sanggar Fortune Cetak Kartini Cilik Peduli Lingkungan Hidup

Penulis : Nunik Fajar Tri Listyaningrum, Vicky Anggriawan