logo

HARGA KOMODITAS 26 April 2017
  • Ketela Pohon
    Ketela Pohon
    5.319
    69
  • Kacang Tanah
    Kacang Tanah
    25.172
    902
  • Mie Instan
    Mie Instan
    2.380
    16
  • Beras
    Beras
    10.585
    123
  • Gula Pasir
    Gula Pasir
    13.606
    205
  • Minyak Goreng
    Minyak Goreng
    11.465
    574
  • Tepung Terigu
    Tepung Terigu
    8.813
    43
  • Kacang Kedelai
    Kacang Kedelai
    10.938
    438
  • Daging Sapi
    Daging Sapi
    114.746
    557
  • Daging Ayam
    Daging Ayam
    30.166
    784
  • Telur Ayam
    Telur Ayam
    21.735
    295
  • Cabai
    Cabai
    30.149
    5.368
  • Bawang
    Bawang
    32.964
    5.204
  • Susu
    Susu
    10.379
    45
  • Jagung
    Jagung
    7.079
    74
  • Ikan
    Ikan
    74.157
    136
  • Garam
    Garam
    5.904
    106




TNI dari Masa ke Masa

Militer Indonesia hendaknya tidak bergeser posisinya sebagai kekuatan nasional dan kekuatan regional.

5 April 2017 10:10 WIB

Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin.
Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin. Dok. Pribadi

Di saat terjadi unjuk rasa yang tanggal 4 November 2016 di Jakarta yang berlangsung tertib dan damai, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo memberikan apresiasi dalam menjaga keamanan tanah air sekaligus memberikan instruksi kepada TNI di Mabesad tanggal 7 November 2016 untuk jangan ragu bertindak demi keutuhan NKRI dengan memegang teguh Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Pada momen yang lain, Presiden pemegang kekuasaan tertinggi AD-AL-AU memberikan perintah kepada TNI untuk tidak mentolerir gerakan yang ingin memecah belah bangsa. Setiap terjadi peristiwa yang mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa, TNI sebagai Tentara Nasional harus menjadi kekuatan perekat bangsa dan pantang menyerah menjaga keutuhan NKRI. Ini lah tantangan tugas TNI dari masa ke masa untuk siap bergerak mengatasi gangguan insidentil dan laten bagi kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Pesan Wiranto untuk TNI Polri Jelang Pencoblosan: Kita Tidak Sedang Hadapi Musuh

Menengok perjalanan sejarah Indonesia, salah satu dari negara yang sangat langka membangun militernya saat rakyatnya berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan yang diproklamasikan 17 Augustus 1945 atas nama Bangsa Indonesia oleh Soekarno - Hatta. Itulah spesifikasi militer Indonesia yang dikenal dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai Tentara Rakyat - Tentara Pejuang dan Tentara Nasional jauh sebelum membangun diri sebagai Tentara Profesional.

Empiris perjalanan TNI menggambarkan betapa jauh perbedaan militer negara lain dengan militer Indonesia yang lahir hanya sarat dengan semangat tidak kenal menyerah tapi belum memiliki sistem dan organisasi militer seperti layaknya dimiliki oleh suatu negara lainnya. TNI nyaris tidak memiliki kemampuan tempur konvensional (combat) apalagi memiliki bantuan tempur (combat support) dan bantuan administrasi (combat service support) yang berperan menopang dan mendukung sistem operasi.


TNI dan USPACOM Gelar Latihan Penanggulangan Bencana Multinasional

Perjuangan melawan penjajah tidak disangkal telah melahirkan komandan pertempuran (combat leaders) di dalam kancah perang gerilya yang mencair bersama rakyat dengan taktik hit and run berhasil memukul mundur kekuatan militer konvensional musuh yang lebih kuat. Padahal para komandan lapangan saat itu belum tersentuh pendidikan militer profesional walaupun ada masa yang singkat dalam perang kemerdekaan, Jepang memberikan latihan militer dasar bagi para pemuda yang tergabung dalam Pembela Tanah Air (PETA). Fakta sejarah yang diakui oleh TNI dan Bangsa bahwa Generasi ’45 yang mewariskan kepada Generasi Penerus nilai yang mendasari tumbuh berkembangnya militer Indonesia. Ada perbedaan antara Generasi Penerus dengan Generasi ‘45 yang terlebih dahulu mengaplikasikan taktik dan strategi, setelah itu baru mempelajari teori di sekolah yang mana aplikasi tersebut dibenarkan oleh teori, sedangkan Generasi Penerus terlebih dahulu melakukan uji teori sebelum mengaplikasikan di lapangan. Mengapa hal itu terjadi? Bisa dikemukakan bahwa "Semangat Patriotisme dan Nasionalisme" disertai "Kepekaan Taktis" yang melekat tanpa kepentingan lain kecuali "Demi Martabat Bangsa dan Negara ".

Masih teringat semasa mengawali tugas operasi militer di Timor Timur awal tahun 1976 seorang pewira Generasi ‘45 mengingatkan : jika generasi kami berbuat kesalahan akan berakibat biasa, karena belajar di bawah pohon bambu, sebaliknya kesalahan yang dibuat oleh Generasi Penerus bisa timbulkan kerusakan besar karena ilmu yang diperoleh lebih tinggi. Memang beralasan argumentasi senior tersebut karena pada kondisi perang yang transisi dengan pengawasan yang lemah sering terjadi penyalahgunaan wewenang bagi para pejabat logistik ditingkat komando operasi yang dipegang oleh para perwira yang baru lulus pendidikan langsung terjun ke medan operasi dengan menimbun logistik prajurit yang didatangkan dari Singapura dengan harga murah dan bebas pajak disalahgunakan dengan menjual gelap pasar di Surabaya dengan keuntungan untuk segelintir perwira logistik yang tidak berkeringat di garis depan bahkan berhadapan langsung dengan taruhan nyawa.

Polisi Temukan Sejumlah Kejanggalan Pada 'Bus Maut' di Puncak

Selanjutnya >
×
×