logo





AHY Boleh Kalah, Tapi SBY Justru Sukses Mainkan Strategi Politiknya

Sementara partai lain bingung mencari sosok generasi penerus, Demokrat sudah memiliki AHY.

17 Februari 2017 15:23 WIB

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memberikan keterangan pers di kediamannya di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (14/2).
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memberikan keterangan pers di kediamannya di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (14/2). Jitunews/Rezaldy

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pilkada DKI Jakarta 2017 tak bisa jika tak dikaitkan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri. Ketiganya dalam putaran pertama Pilkada DKI yang baru saja berlangsung berdiri pada poros masing-masing alias saling bertarung.

Pembangunan Nasional Tak Memuaskan, GBHN Dimana Engkau?

Rabu, 15 Februari 2017, warga Jakarta telah menggunakan hak suaranya untuk memilih gubernur dan wakil gubernurnya. Dari semua hasil penghitungan cepat Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat berada di urutan teratas, dibuntuti Anies Baswedan-Sandidaga Uno di posisi kedua dan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni di urutan terakhir.

Merujuk pada hasil penghitungan cepat Litbang Kompas yang telah mencapai 100 persen, Ahok-Djarot mengumpulkan suara 42,88 persen, Anies-Sandi 39,74 persen dan Agus-Sylvi 17,8 persen, maka Pilkada DKI Jakarta akan dilangsungkan dua putaran. Mengingat belum ada satu pasang kandidat yang berhasil mencapai total suara 50 persen plus satu sebagai syarat pemenang pemilu.


Dekat dengan Keislaman, Ahok Tetap Jadi Tumbal Politik Keagamaan

Dengan demikian, Agus-Sylvi adalah pasangan yang tereliminasi lantaran jumlah suaranya paling rendah dibanding dua kandidat lainnya.

"Secara ksatria dan lapang dada saya menerima kekalahan di Pilkada DKI Jakarta," demikian ucap Agus yang mengakui kekalahannya di markas pemenangan Agus-Sylvi di Wisma Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (15/2).

Sebelum pertandingan berlangsung, banyak pihak sempat dibuat terkejut oleh keputusan Koalisi Cikeas yang memilih Agus Harimurti Yudhoyono sebagai penantang Ahok. Koalisi Cikeas sendiri terdiri dari Partai Demokrat, PPP, PKB dan PAN. Lantaran ada sosok SBY, maka banyak pihak menilai, majunya Agus dalam perebutan kursi DKI I adalah kehendaknya.

Sebagai seorang juru racik strategi, jelas maksud SBY yang menunjuk Agus tak bisa dianggap sebuah langkah blunder. Jika dideretkan dengan Ahok atau Anies, jelas sosok Agus sangat tak sebanding, khususnya di arena politik.

Sekarang atau tidak sama sekali, mungkin inilah yang ada dibenak SBY sehingga dirinya memutuskan untuk mengusung anaknya dalam Pilkada DKI Jakarta yang kemudian disepakati oleh PAN, PKB dan PPP.

Sebagai seorang politisi senior bisa dikatakan karir politik SBY telah usai. Adapun hari ini dirinya masih menjabat sebagai ketua umum partai bisa dibilang hanya itulah yang saat ini menjadi 'proyek politik' SBY. Jabatan politik atau yang dikiaskan sebagai pejabat atau penguasa rasa-rasanya sudah tertutup bagi SBY, baik lantaran usia atau pun karena status mantan presiden yang mana itulah puncak tertinggi dari posisi politik di negeri ini.

Sebelumnya, publik telah mengetahui SBY dikaruniai dua orang putra yakni Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). Jika Agus memilih dunia kemiliteran, maka Ibas memilih berpolitik mengikuti jejak bapaknya yang dulunya tentara namun masuk ke dunia politik.

Jika merujuk pada pengalaman politik, harusnya SBY menujuk Ibas bukan Agus yang bertanding dalam Pilkada DKI. Pengalaman Ibas yang bisa dibilang lebih mentereng ketimbang sang kakak di dunia politik rasanya lebih cocok. Bahkan publik pun bisa menilai mana yang lebih berkualitas secara politik antara Ibas dan Agus. Tapi nyatanya SBY tak melakukan hal itu.

SBY adalah politisi yang cerdik dalam bersiasat, bisa dibayangkan jika SBY mendorong Ibas untuk bertarung melawan gerbong Megawati dan gerbongnya Prabowo. Bisa jadi, lawan politik SBY menjadikan Ibas sasaran empuk lantaran track record kader Demokrat yang kurang bersih sepanjang 10 tahun kepemimpinan SBY. Terlalu beresiko, bahkan besar resikonya jika Ibas turun gelanggang politik DKI Jakarta.

Mungkin atas hitung-hitungan tersebut SBY mendorong Agus untuk bertarung melawan Ahok dan Anies walau sang anak harus mengubur impiannya berkarir di dunia militer. Agus yang bisa dikatakan tak memiliki lawan politik, terpaksa membuat pesaing menghajar sang bapak. Sangat sulit melepaskan kepentingan politik dari grasi yang diterima Antasari Azhar. Terlalu banyak indikasinya.

Jika menilik karakter partai politik di Indonesia yang kental dengan nuansa kerajaan, tak salah SBY memaksakan kehendaknya atas nama Partai demokrat untuk mengusung Agus, meskipun sebelumnya ada nama Yusril Ihza Mahendra dan mantan Menpora era SBY, Adhyaksa Dault yang mungkin saja hasilnya berbeda.

Bukankah partai politik di negeri yang subur ini menganut sistem kerajaan? Bukan tak mungkin setelah era Megawati, PDIP bakal tetap dipegang oleh klan Soekarno. Untung saja Soeharto sempat berikrar tentang empat hal setelah lengser kepada 'Imam' beliau hingga akhirnya Golkar tak lagi dikuasai gen 'Pak Harto'. Bukan tak mungkin pula kelak Prabowo, Wiranto ataupun Surya Ploh sekali pun akan melakukan hal sama, yakni memastikan anak biologisnya lah yang meneruskan kerja mesin-mesin partai.

Jika tidak, maka mereka mau tidak mau harus menjadi leader hingga mereka menemukan orang yang "tepat". Yaitu orang yang bisa dikendalikan. PKB saja masih ada yang mengharapkan bahwa keturunan Gus Dur yang memimpin. Memang sedikit berbeda bagi PPP dan PKS. Partai ini tidak dirintis oleh satu tokoh sentral yang kuat.

Kembali soal AHY, bisa disebut dirinya ialah Rookie of The year dalam kancah politik dalam negeri. Setidaknya rezeki Agus masih lebih baik ketimbang Joko widodo sekalipun atau bahkan, Ahok, Ridwan kamil, Trirismaharini atau kang Yoto. Adapun nama-nama tersebut merupakan pemimpin daerah yang potensial, namun mereka hanyalah kader partai atau sosok pemimpin yang tidak memiliki gen biologis dari para petinggi partai.

Andai saja Puan Maharani kala 2009 silam setara dengan kualitas Ahok, bukan tak mungkin Megawati mendudukan putrinya itu mendampingi Joko Widodo melawan Fauzi Bowo-Nachrawi Ramli.

AHY memang sudah menyatakan dirinya kalah dalam Pilkada DKI 2017, tapi jelas SBY pun sudah memperhitungkan hal itu. Jangan diartikan SBY bodoh seolah tak melakukan perhitungan soal nama-nama yang harus diusungnya. Bahkan SBY pun sadar bahwa AHY sendiri tak akan memenangkan pertempuran kursi DKI I, kalau pun menang anggaplah jackpot.

Sebagai jago strategi, SBY menggunakan momentum Pilkada DKI 2017 untuk mendorong anak biologisnya untuk menuai kekuasaan di massa yang akan datang. Mungkin ini pula yang menjadi dasar lawan politik Presiden keenam RI untuk menyerangnya di beberapa kesempatan. Pilkada DKI dibaca SBY sebagai momentum yang ideal bagi AHY. SBY ingin memperlihatkan anak biologisnya kepada publik dan ternyata hal itu cukup efektif bahkan berhasil.

Terlihat dari isi pemberitaan di media-media pasca pengumuman calon gubernur dan wakil gubernur DKI yang lebih banyak menyoroti biografi Agus Harimurti Yudhoyono ketimbang dua kandidat lain. Jelas nama Basuki Tjahaja Purnama, Djarot Saiful Hidayat, Anies Baswedan bahkan Sandiaga Uno publik sudah mengenal, sehingga tak perlu lagi media mengulas latar belakang dari nama-nama di atas.

Mungkin saja dapur tim pemenangan Ahok seketika syok saat kandidat yang menjadi lawannya adalah AHY, yakni sosok yang tak memiliki jejak rekam politik buruk apalagi pernah terlibat korupsi. Padahal tim pemenangan Ahok-Djarot dalam kondisi percaya diri yang tinggi bisa memenangkan Pilkada DKI satu putaran, terlebih faktor PDIP yang sebelumnya sudah ada Golkar menyatakan dukungannya kepada calon petahan tersebut.

Karena ide cemerlang SBY, tentu pihak Ahok-Djarot wajib mengubah alur strategi untuk melawan dua kandidat yang ada. Wacana menang satu putaran pun menjadi tantangan besar, yang pada akhirnya menjadi kenyataan bahwa Pilkada DKI berlangsung dua putaran.

Meski menjadi juru kunci atau bisa disebut kalah, setidaknya suara yang berhasil diraih Agus di ibu kota tidak buruk. Artinya SBY bisa dibilang berhasil untuk memajukan sosok AHY sebagai sosok potensial pada 2024 mendatang. Bukan tak mungkin pula jika anak sulungnya itu diberi mandat untuk memimpin partai Bintang Mercy tersebut.

Sebagai rookie, setidaknya Agus sudah memiliki modal sebesar 17,96 persen (versi PolMark Indonesia) di Pilkada DKI, jika benar nantinya bakal menuju pertarungan RI I. Indikasinya bisa saja dilihat dari para pendukung Agus-Sylvi yang meneriakan 'Agus Presiden, Agus Presiden, Agus Presiden' di Wisma Proklamasi.

Sebagai politisi muda Agus sudah dikenal publik secara nasional, sejalan dengan isu Pilkada DKI yang berdampak masif di tanah air. Selain sudah dikenal publik, AHY telah mengantongi pengalaman atau pun ujian berat sepanjang jalannya Pilkada DKI di karir politiknya yang masih 'hijau'.

Kekalahan di Jakarta kali ini akan mudah dilupakan rasa sakitnya. Sekarang ia hanya butuh waktu untuk fokus membenahi Demokrat. Ia punya kesempatan kedua untuk membuktikan bahwa ia bukan anak kemarin sore. Sementara partai lain bingung mencari sosok generasi penerus, Demokrat sudah memiliki AHY.

Memang begitulah konsekuensinya. Jika mendirikan partai dan sudah berkembang besar, apakah anda akan rela mewariskan kepada orang lain yang bukan dari keturunannya?

Jelas aksi nyinyir kepada SBY dan AHY sepanjang berlangsungnya Pilkada Jakarta sesungguhnya tak berdampak besar atau berpengaruh bagi AHY. Namun, pertanyaan soal akan menjadi apakah AHY di masa yang akan datang di Indonesia, sesungguhnya itu adalah urusan nanti biar waktu yang menentukan. Sudah sifat dasar dari politik bahwa politik bersifat dinamis.

Tujuh Tahun Wafat, Bangsa Ini Rindu Toleransi Gus Dur