logo


Atasi Fluktuasi Harga Pangan, Kementan Maksimalkan Pengoperasian 1.000 TTI

"Permasalahan fluktuasi harga pangan sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat, di mana harga pangan yang bergejolak tidak hanya merugikan konsumen tetapi juga petani selaku produsen"

11 Januari 2017 11:26 WIB

Toko Tani Indonesia (TTI).
Toko Tani Indonesia (TTI). JITUNEWS/Siprianus Jewarut


GARUT, JITUNEWS.COM- Masalah fluktuasi harga pangan masih menjadi momok besar bagi pemerintah. Pasalnya, adanya fluktuasi harga pangan saat ini merupakan dampak dari turunnya produksi pangan petani.

Hari ke-3, TTI Center Makin Ramai Dipadati Pembeli

Untuk mengatasi masalah fluktuasi harga ini, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Ketahanan Pangan (BKP), akan memaksimalkan pengoperasian 1.000 Toko Tani Indonesia (TTI) yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Permasalahan fluktuasi harga pangan sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat, di mana harga pangan yang bergejolak tidak hanya merugikan konsumen tetapi juga petani selaku produsen, maka untuk mengatasi masalah fluktuasi harga ini, kita akan maksimalkan pengoperasian 1.000 TTI yang tersebar di seluruh Indonesia," ujar Kepala BKP, Gardjita Budi, dalam keterangannya, Rabu (11/1).


Catat! Ini Daftar Komoditas Pangan yang Dijual di Toko Tani Center Pasar Minggu

Lebih lanjut, Gardjita mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan Kementerian Pertanian untuk mendukung upaya stabilisasi harga pangan adalah dengan kegiatan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) melalui Toko Tani Indonesia (TTI).

"Dalam hal ini, pemerintah memberikan dukungan dalam permodalan dan operasional bagi Gapoktan untuk menyerap pangan hasil produksi petani untuk selanjutnya memasok pangan pokok tersebut kepada Toko Tani Indonesia yang bermitra dengan Gapoktan," jelas Gardjita.

"Tujuannya adalah agar petani dapat menyalurkan hasil produksinya secara kontinyu dan memperoleh harga yang wajar serta menguntungkan. Di lain pihak, konsumen juga mudah untuk mengakses pasar dengan harga yang terjangkau (lebih murah dari harga pasar) sesuai ketentuan yang berlaku," imbuh Gardjita.

Ditambahkan Gardjita, untuk Tahun 2017 Kementerian Pertanian akan kembali mengaktifkan pengoperasian TTI yang ada. Yang mana jumlahnya mencapai 1.000 TTI dengan fokus utama di wilayah DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

“60 persen dari keberadaan TTI tersebut ada di wilayah DKI Jakarta dan 40 persen lainnya menyebar di wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Sedangkan keberadaan TTI lainnya yang ada di luar wilayah Jabodetabek tetap ada dan berjalan untuk pemenuhan kebutuhan lokal,” terang Gardjita.

Adapun fokus komoditi yang dipasok ke TTI untuk Tahun 2017 selain beras adalah cabai dan bawang merah. Sedangkan untuk daging sapi, telah dilakukan kesepakatan (MoU) antara Bulog dengan ADDI (Assosiasi Distributor Daging Indonesia) pada tanggal 21 Desember 2016 di Kantor Kementerian Perdagangan.

MoU itu disaksikan oleh Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukito dan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. MoU itu berisi tentang pendistribusian daging sapi di pasar-pasar wilayah Jabodetabek sebagai upaya stabilisasi harga daging sapi di tingkat konsumen.

Dalam Mou itu, untuk daging sapi beku dijual dengan harga Rp 80 ribu kilogram dan daging sapi lokal dengan harga tidak melebihi Rp 100 ribu per kilogram.

Gelar Pasar Pangan Murah, Kementan Gandeng Semua Sektor Terkait


Penulis : Siprianus Jewarut, Christophorus Aji Saputro
Tag:

Komentar

    ×
    ×