logo


Jeruk Seukuran Bola Basket Itu Bernama Pamelo Astano

Harga jeruk pamelo astano berkisar antara Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu per buah

11 Januari 2017 11:00 WIB

Jika dibandingkan dengan jeruk biasa, jeruk pamelo astano ini lebih besar 10 kali lipat dan beratnya bisa mencapai 10 kilogram per buah.
Jika dibandingkan dengan jeruk biasa, jeruk pamelo astano ini lebih besar 10 kali lipat dan beratnya bisa mencapai 10 kilogram per buah. viva.co.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Anda pasti mengenal jeruk Bali kan? Di pasar internasional, jeruk berkulit tebal ini dikenal dengan nama pamelo. Nah, salah satu daerah penghasil jeruk pamelo di Indonesia ini adalah Kabupaten Muaro Jambi di Provinsi Jambi.

Jeruk Segi Lima, Kreasi Petani Jepang Nan Unik

Uniknya, berbeda dengan jeruk lazimnya, jeruk pamelo asal Jambi yang diberi nama pamelo astano ini berukuran raksasa lho. Umumnya, saat ditimbang, berat satu buahnya berkisar 100 hingga 200 gram. Namun, jeruk pamelo astano memiliki ukuran yang cukup besar, yakni seukuran bola basket lho! Jika dibandingkan dengan jeruk biasa, jeruk ini lebih besar 10 kali lipat dan beratnya bisa mencapai 10 kilogram per buah. Wow!

"Jeruk Pamelo Astano punya daging merah, dan ini terdapat di Kabupaten Muaro Jambi," ujar petugas Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Jambi, Afandi, saat ditemui di Festival Buah Nusantara beberapa waktu lalu.


Mengulik Teknis Budidaya Jeruk Nipis Non Biji ala Teguh Jaya

Meski ukurannya terbilang raksasa, tenyata jeruk Pamelo Astano memiliki rasa yang manis, mirip dengan rasa buah jeruk Bali pada umumnya.

Afandi mengatakan, saat ini warga kawasan Muaro Jambi sedang berusaha membudidayakan buah tersebut. Mereka menjualnya dengan harga Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu per buah.

"Ada dua jenis Pamelo Astano, yang satu warna merah dan ada juga warna putih. Kebanyakan warga membudidayakan yang warna putih karena lebih manis," ujar Afandi.

Sementara itu, menyoal budidaya jeruk pamelo sendiri, biasanya jeruk ini dibudidayakan dengan cara cangkok. Cara budidaya dengan cangkok dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan penanaman secara biji atau stek, karena masa tanamnya yang lebih pendek.

Menurut Sukir, petani jeruk pamelo asal Pati, Jawa Tengah, lantaran dibudidayakan dengan cangkok, ia berpesan agar petani pamelo benar-benar memperhatikan bibit tanaman ini. Jangan sampai berasal dari tanaman induk yang terserang penyakit.

"Bibit ini akan menentukan hasil panen dan kepanjangan umur," katanya.

Sukir yang sudah menanam jeruk pamelo sejak 1989 silam, menuturkan, jarak tanam antara satu pohon dengan pohon lain minimal 6 x 7 meter. Jarak itu dipakai dengan syarat lahan miring ke timur. Sementara untuk lahan rata atau miring ke barat, jarak tanam paling tidak 7 x 8 meter atau 8 x 8 meter.

Jarak tanam yang sangat lebar itu untuk mengantisipasi pertumbuhan pohon yang bisa mencapai ketinggian sekitar lima meter.

Selain itu, pertumbuhan ranting yang banyak menyamping juga akan mengurangi sinar matahari, makanya jarak antara satu pohon dengan pohon lainnya cukup jauh.

"Sinar matahari yang kurang akan membuat hasilnya kurang bagus," ungkap Sukir.

Selain perlu sinar matahari yang banyak, pohon jeruk pamelo juga perlu dipupuk tiga kali dalam setahun. Sukir mencontohkan, selama ini, ia memberi pupuk kandang setahun sekali ketika sudah mulai musim kemarau antara Juni hingga September. Ketika musim hujan mulai atau sekitar Oktober dan November, dan pada Maret atau April, Sukir menaburi pupuk NPK.

 

Trik Jitu Mengupas Jeruk ala Chef Profesional

Penulis : Riana
×
×