logo


Sjafrie Sjamsoeddin Minta TNI untuk Tidak Tergoda

Yang paling diperlukan oleh rakyat yang melahirkan TNI adalah bersikap 'tidak' terhadap godaan kepentingan yang mencoba menggelitik.

10 Januari 2017 21:16 WIB

Mantan Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Wamenhan RI), Sjafrie Sjamsoeddin.
Mantan Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Wamenhan RI), Sjafrie Sjamsoeddin. JITUNEWS/Bayu Erlangga

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Mantan Pangdam Jaya Sjafrie Sjamsoeddin muncul kembali setelah sebelumnya sempat menghilang pasca pengumuman calon kandidat gubernur dalam Pilkada DKI Jakarta.

Ditipu Teman Sekolah Dasar, Sepeda Motor Pria Ini Raib

Kali ini mantan wakil Menteri Pertahanan itu berbicara soal tugas TNI dan Polri dalam posisi mengawal pemerintahan.

"Di masa lalu, peran pemerintah sangat dominan dihampir semua sektor penyelenggara negara yang lazim disebut otoritarian seraya menempatkan TNI dan POLRI pada posisi ketat mengawal pemerintah," demikian ucap Sjafrie dalam keterangan tertulis kepada Jitunews.com, Selasa (10/1).


Waspada! Tiap Tahun Kasus Rubella Terus Meningkat

Lanjut Sjafrie, masa kini yang dikenal era demokrasi posisi TNI dan Polri harus dipastikan mengalami perubahan status dan posisi berdasarkan UU TNI dan UU POLRI.

Hampir 19 Tahun TNI melakukan reformasi, rupanya telah mengubah perilaku baik dari individu prajurit maupun institusi yang kini menjadi lebih profesional. Reformasi mengubah TNI menjadi lebih patuh dan taat kepada amanat konstitusi, yang mana sikap independen adalah tuntutan profesionalisme militer. Walaupun tidak disangkal masih terjadi kasuistis yang menodai TNI.

Di sisi lain sikap prajurit pejuang dan prajurit rakyat adalah nilai yang bermakna bagi TNI. Yang mana layak memiliki prinsip keberpihakan kepada rakyat yang memiliki kedaulatan yang asli di negeri ini.

"Di sinilah diperlukan kepastian dan keyakinan TNI yang utuh dan konsisten menterjemahkan jiwa Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Konsistensi kejujuran dan kebenaran mengabdi ini memastikan berbagai curiga dan tudingan akan sirna," demikian lanjut Sjafrie.

Yang paling diperlukan oleh rakyat yang melahirkan TNI adalah bersikap 'tidak' terhadap godaan kepentingan yang mencoba menggelitik. Ini menjadi nilai moral tertinggi sebagai kehormatan TNI yang ditebus dengan keringat dan darah dari generasi pendahulu sampai generasi penerus sampai kapan pun.

"Bagi prajurit waktu pengabdian pasti berlalu, tapi bagi institusi TNI menjadi ukiran sejarah. TNI adalah milik nasional harapan sekaligus menjadi perhatian rakyat," ungkap Sjafrie mengakhiri.

Gerakan Doa Bersama 17 17 17 untuk Indonesia Lebih Kasih Sayang

Penulis : Syukron Fadillah