logo


Gali Potensi Lahan Tegakan, Qodir Pelopori Budidaya Empon-Empon di Grobogan

Keinginan menanam empon-empon berawal dari seringnya ia berdiskusi dengan beberapa petani pembudidaya dari berbagai daerah.

14 Desember 2016 19:42 WIB

Muhammad Ngabdul Qodir menyortir bibit empon-empon yang akan ditanam di lahan tegakan jati Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Gundih, di Desa Jambon, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Muhammad Ngabdul Qodir menyortir bibit empon-empon yang akan ditanam di lahan tegakan jati Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Gundih, di Desa Jambon, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Jitunews/Miftahul Abrori

SOLO, JITUNEWS.COM – Menyadari potensi pertanian di wilayahnya, Muhammad Ngabdul Qodir, Ketua Kelompok Tani ‘Tani Tekun’ Dusun Tawang, Desa Jambon, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, mempelopori pembudidayaan tanaman empon-empon di lahan tegakan jati Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Gundih, Grobogan di daerahnya.

Langkah Jitu Mengukur pH Tanah Untuk Budidaya Tanaman

Pemuda kelahiran Grobogan, 5 Juni 1985 itu mengakui bahwa keinginan menanam empon-empon berawal dari seringnya ia berdiskusi dengan beberapa petani pembudidaya dari berbagai daerah. Setelah berdiskusi dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Desa Jambon, dan mendapat ijin pemanfaatan lahan tegakan dari Perhutani, pria yang juga menjabat Sekretaris Kelompok Tani Hutan Rakyat ‘Mukti Sejati’ Desa Jambon itu semakin mantap merealisasikan keinginannya.

“Saya melihat potensi yang luar biasa kalau mau memanfaatkan lahan tegakan untuk budidaya empon-empon. Melihat potensi itu saya berfikir, kenapa tidak kita mencoba untuk memulai. Toh pasar sudah jelas,” kata Qodir kepada Jitunews.com di Grobogan.


Mengulas Budidaya Stroberi California, Seperti Apa?

Qodir mengungkapkan, ia berhasil meyakinkan 7 petani untuk mengikuti jejaknya. Pada bulan Desember ini ia dan para petani baru proses penanaman. Total lahan yang dikerjakan sekitar 10 hektare. Untuk lahan yang ia kelola seluas 2,25 hektare, yang ditanami kunir seluas 1 ha, jahe 1 ha, dan laos 0,25 ha. Selain itu ia juga menanam kencur dan serai/ sereh sebagai tanaman selingan. Diperkirakan masa panennya berada di bulan November tahun depan.

“Kita sudah kerjasama dengan beberapa rekan yang siap membeli empon-empon sebanyak mungkin. Salah satu pabrik jamu bahkan siap membeli hasil panen kunir sebanyak satu ton per bulan secara kontinyu. Tetapi dengan lahan 10 hektar, kami belum bisa menyanggupi. Untuk bisa menghasilkan per bulan satu ton, minimal dibutuhkan lahan 12 hektar untuk satu varietas saja,” jelasnya.

Saat ini pihaknya fokus dalam pengolahan lahan untuk menghasilkan empon-empon dalam jumlah banyak dan berkualitas. Meskipun pembudidayaan empon-empon masih dibiayai secara mandiri/ swadaya, ia yakin hasil panennya nanti laku di pasaran dan memberikan keuntungan yang lumayan.

“Seandainya tidak ada pabrik atau perusahaan besar yang mau membeli, kita jual di pasar lokal juga laku,” tambahnya.

Qodir mencontohkan komoditas empon-empon di beberapa pasar lokal di Purwodadi, Grobogan, saat ini masih menggantungkan kiriman dari luar Kabupaten Grobogan. Jika ia bisa memproduksi empon-empon di wilayahnya, maka ia bisa menjual dengan harga yang lebih murah ke pedagang dan mampu menekan ongkos pengiriman, sehingga pedagang mendapatkan keuntungan yang lebih banyak.

Ketika ditanya mengenai tingkat keberhasil budidayanya, dengan yakin Qodir menaksir angka keberhasilan mencapai 85 persen. Ia berkaca pada tanaman empon-empon di desanya yang selama ini tumbuh subur secara liar di pekarangan, meskipun tanpa perawatan sama sekali.
“Seperti kunir, jahe, dan laos itu sebelumnya sudah tumbuh subur di pekarangan.Tidak dirawat pun juga tumbuh. Kalau ditanam secara besar-besaran di desa kami memang baru kali ini,” terangnya.

Dengan banyaknya masyarakat yang memanfaatkan empon-empon sebagai bumbu dapur dan obat, dan bahkan pabrik-pabrik besar juga mengolahnya menjadi obat herbal, Qodir memprediksi budidaya empon-ompon berprospek cerah ke depannya.

“Apalagi saat ini masyarakat mulai beralih dari obat kimia dan melirik pengobatan herbal. Nenek moyang kita sudah mewariskan cara menanam dan menemukan khasiatnya, tinggal kita mengembangkan,” kata dia.

Qodir mengungkapkan, meskipun niat membudidayakan empon-empon di wilayahnya sempat dianggap aneh dan dicibir masyarakat di sekitarnya, Qodir tetap yakin dengan keputusannya tersebut. Bukan tanpa sebab ia dicibir, Qodir dinilai nekat karena empon-empon bukan tanaman yang umum ditanam oleh para petani. Sebagian besar petani di desanya menanam padi, jagung, kedelai, dan tanaman pangan lainnya di sawah dan tegal.

“Kami ingin membuktikan dulu bahwa ini potensi yang bisa dikerjakan. Setelah kami berhasil mudah-mudahan dinas terkait lebih peduli, dan harapan besar kami bisa dikembangkan di daerah lain,” pungkasnya.

Melongok Cerahnya Prospek Budidaya Jambu Kristal

Penulis : Miftahul Abrori, Vicky Anggriawan