logo


Dianggap Aneh, Petani Muda Asal Grobogan Ini 'Kekeuh' Budidaya Empon-Empon

Ayah dari Najwa Qotrun Nada itu memilih membudidayakan empon-empon karena masyarakat selalu membutuhkan tanaman tersebut di setiap harinya, entah sebagai bumbu dapur maupun obat.

14 Desember 2016 09:23 WIB

Muhammad Ngabdul Qodir menanam empon-empon di  Desa Jambon, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan.
Muhammad Ngabdul Qodir menanam empon-empon di Desa Jambon, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan. Jitunews/Miftahul Abrori

GROBOGAN, JITUNEWS.COM – Muhammad Ngabdul Qodir, petani muda asal Grobogan, Jawa Tengah, ini dianggap aneh dan dicibir masyarakat di sekitarnya saat memutuskan membudidayakan tanaman empon-empon. Bukan tanpa sebab ia dicibir, Qodir dinilai nekat karena empon-empon bukan tanaman yang umum ditanam oleh para petani.

Budidaya Sengon Memuliakan Alam dan Sejahterakan Masyarakat

Asma Hingga Radang Usus Bablas dengan Gambas

Sebagian besar petani di desanya menanam padi, jagung, kedelai, dan tanaman pangan lainnya di sawah dan tegal. Sedangkan pria kelahiran Grobogan, 5 Juni 1985 itu memanfaatkan lahan tegakan jati milik Perhutani dengan menanam kunir, jahe, laos, kencur, dan sereh.


Teknis Jitu Budidaya Tomat Recento Ala Saung Mirwan

Tak hanya dari masyarakat, bahkan anggota keluarganya juga mempertanyakan dan meragukan keputusannya. Bukannya urung, Qodir semakin berani dan menjawab tantangan masyarakat dengan menanam empon-empon di lahan seluas 2,25 hektare.

Diburu Kalangan Atas, Prospek Budidaya Pepaya Hawaii Menjanjikan!

“Orang-orang ‘menertawakan’ karena menanam empon-empon dianggap sesuatu yang aneh. Banyak masyarakat yang meragukan. Jangankan orang lain, orang tua, bahkan istri saya sendiri juga meragukan. Tetapi setelah saya mencoba berbicara panjang lebar, saya tunjukkan artikel-artikel dan buku-buku panduan, akhirnya keluarga mendukung. Beberapa teman petani pun ikut menanam empon-empon,” kata suami Siti Munawaroh itu kepada Jitunews.com, belum lama ini.

Keunikan Rasa Durian Terong

Ditemui di kediamannya di Dusun Tawang, Desa Jambon, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Qodir mengungkapkan bahwa ia berhasil mengajak 7 petani untuk mengikuti jejaknya, dengan total lahan yang dikerjakan sekitar 10 hektare. Untuk lahan miliknya seluas 2,25 hektare ditanami kunir seluas 1 ha, jahe 1 ha, dan laos 0,25 hektar. Selain itu ia juga menanam kencur dan serai/sereh sebagai tanaman selingan.

Peneliti UGM Sukses Membuat Obat Antinyamuk dari Melon

Ayah dari Najwa Qotrun Nada itu memilih membudidayakan empon-empon karena masyarakat selalu membutuhkan tanaman tersebut di setiap harinya, entah sebagai bumbu dapur maupun obat. Alasan kedua, menurut pengalamannya empon-empon memiliki harga jual yang paling stabil.

Membuat Kolam Hias untuk Pekarangan Kecil

“Fluktuatifnya atau naik turunnya harga tidak terlalu banyak. Seperti dalam dua tahun terakhir di Pasar Induk Purwodadi, Grobogan, harga kunir harganya kisaran Rp 2.500. Kemudian laos kisaran Rp 3.500, dan kencur antara Rp 8 ribu sampai Rp 10 ribu,” urainya.

Pemuda yang dipercaya sebagai Ketua Kelompok Tani ‘Tani Tekun’ Dusun Tawang, dan Sekretaris Kelompok Tani Hutan Rakyat ‘Mukti Sejati’ Desa Jambon itu menanam empon-empon atas dukungan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Desa Jambon, dan mendapat izin penuh dari Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Gundih, Grobogan.

Tiga Varietas Padi Organik Banyuwangi Resmi Terdaftar di Kementan

“Perhutani memberi izin sebagai lahan percontohan. Pihak Perhutani Gundih malah berterima kasih apabila ada masyarakat memiliki inisiatif untuk tanam empon-empon di bawah tegakan hutan. Karena Perhutani melarang keras untuk di bawah tegakan ditanami jagung, ketela pohon, dan jenis tanaman yang menyerap unsur hara tanah terlalu tinggi, sehingga mengganggu pertumbuhan pohon jati. Kalau empon-empon tidak menyerap unsur hara tinggi,” jelas Qodir.

Budidaya Sengon Memuliakan Alam dan Sejahterakan Masyarakat

Selain itu, kata Qodir, Perhutani pun berterima kasih jika lahan hutan bisa menguntungkan bagi masyarakat dan juga menghasilkan pembudidaya.

“Perhutani juga mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan lahan sebagai lahan pertanian, karena dapat menekan sedemikian rupa pembalakan liar. Petani diharapkan memanfaatkan lahan sekaligus ikut menjaga pohon dan mengantisipasi agar tidak terjadi illegal logging,” pungkasnya.

Mengulas Budidaya Stroberi California, Seperti Apa?

Penulis : Miftahul Abrori, Riana