logo


Pengenalan Energi Alternatif Harus Dilakukan Sejak Dini

Hal itu untuk mengubah pemahaman anak-anak agar tidak selalu bergantung pada energi konvensional

13 April 2016 10:24 WIB


MALANG, JITUNEWS.COM - Dosen Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB), Eka Maulana mengungkapkan, konsep energi alternatif sebaiknya diperkenalkan sejak dini kepada anak-anak. Hal itu perlu dilakukan untuk mengubah pemahaman anak-anak agar tidak selalu bergantung pada sumber energi konvensional.

Membangun Dunia Usaha Energi Harus Selaras dengan Narasi Kebangsaan

"Sumber energi aternatif bermacam-macam, tetapi yang melimpah di Indonesia adalah tenaga matahari. Ini mengubah paradigma masyarakat tentang energi alternatif listrik," ungkap Eka seperti dikutip dari Malangvoice.com, Malang, Rabu (13/4).

FT-UB telah memperkenalkan konsep edupreuner piranti elektronik berbasis panel surya kepada anak-anak Sekolah Dasar (SD). Menurut Eka, ada 83 siswa dari SD Surya Buana, Malang, yang terlibat dalam kelas pengenalan energi alternatif dan prinsip kerja pembangkit listrik tenaga surya.


Indonesia dan Italia Retas Kerja Sama Energi, Apa yang Menarik?

"Kemarin, peserta dibekali materi praktik lapangan berupa pengukuran energi listrik yang dihasilkan dari proses konversi energi matahari," ujarnya.

Lebih lanjut, Eka menjelaskan, kegiatan pengenalan energi alternatif panel surya ini rencananya akan dilakukan secara berjenjang. Mulai dari level SD, masyarakat umum, bahkan hingga ke pemerintahan. Hal ini disebut Eka sebagai upaya jurusan Teknik Elektro FT-UB mendukung wacana sistem Micro Smart Grid Technology Design (Sistem Sumber Tenaga Listrik Mandiri).

"Untuk mendukung smart grid dibutuhkan penerapan panel surya yang banyak. Maka kami menghimpun dukungan dari bawah untuk menumbuhkan mindset dan akhirnya berkembang bersama," ungkap Eka lagi.

Eka mengatakan, potensi tenaga matahari di Indonesia sangat besar dengan rata-rata 4,8 kW/hari/m2. Potensi ini menurutnya cukup untuk menyuplai kebutuhan listrik rumah tangga dengan mandiri.

Namun, Eka menambahkan, biaya masih menjadi kendala untuk membuat sistem yang lebih besar. Hal ini disebabkan dukungan dan industri solar cell di Indonesia masih belum tersedia.

"Seandainya kalau buat sendiri bisa lebih murah. Nah, negara-negara maju sih sudah menerapkan," ujarnya.

Percepat Proyek 35.000 MW, PLN Teken 8 Kontrak Pembangkit Listrik

Penulis : Deni Muhtarudin