logo


Secara Tak Langsung, Perbankan Berperan Menyumbang Emisi

Pasalnya, perbankan masih melakukan peminjaman & penjaminan untuk sektor bahan bakar fosil.

5 November 2015 15:03 WIB

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Sustainable Development Officer dari Perkumpulan Prakarsa, Rotua Tampubolon mengungkapkan, bahwa sektor perbankan dan lembaga keuangan secara tidak langsung punya andil dalam menyumbangkan peningkatan suhu bumi hingga 2 derajat celcius.

OJK: Investasi EBT Mendadak Akan Matikan Pertumbuhan Ekonomi

Bagaimana tidak, menurut Rotua, perbankan dan lembaga keuangan masih melakukan peminjaman dan penjaminan yang signifikan untuk sektor bahan bakar fosil yang notabenenya penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca.

"Memang tidak serta merta kita bisa menyalahkan bank. Tapi bank punya andil untuk memberikan dorongan, bisa memainkan peran dalam pendanaan untuk tidak lagi bermain di industri ekstraktif, tapi lebih kepada energi terbarukan," ungkap Rotua kepada wartawan, Jakarta, Kamis (05/11).


Gerindra Tak Khawatirkan Rencana KemenESDM-PLN yang Ingin Hapuskan Listrik Non Subsidi

Selama ini, Rotua melanjukan, ada kekhwatiran apabila perbankan tidak lagi mendanai industri ekstraktif, maka pertumbuhan ekonomi dalam negeri tidak lagi kompetitif. Sehingga perusahaan yang bergerak di sektor batu bara dan minyak bumi mencoba untuk mencari pendanaan dari luar yang tidak begitu peduli dengan standar lingkungan.

Sementara itu, Mantan Anggota Dewan Nasional Perubahaan Iklim Farhan Helmy menilai, dalam transformasi pemanfaatan energi dari bahan bakar fosil menjadi Energi Baru Terbarukan (EBT), sektor perbankan memang memiliki peranan penting dalam implementasinya.

"Terlebih arus finansial sekarang sudah menuju ke green investment. Kalau institusi finansial tidak beradaptasi, perbankan kita akan terseok," ujar Farhan.

Tren dunia saat ini, Farhan melanjutkan, negara-negara maju mulai mengurangi pemanfaatan bahan bakar fosilnya. Di Amerika Serikat (AS) misalnya, Pemerintahaan Barack Obama sudah mulai menghentikan penggunaan 200 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara. Bahkan, Tiongkok juga melakukan hal yang sama, yakni dengan mengurangi impor batu bara. Selain kedua negara tersebut, Ausralia bahkan sudah melakukan moratorium ekspor batu bara.

Di sisi lain, Deputi Direktur Departemen Penelitian dan Regulasi Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Edi Setijawan menuturkan, terkait pendanaan bank menjadi penyumbang emisi, perlu dilihat secara komprehensif tidak hanya dari dampak lingkungan.

"Memang idealnya bahan bakar fosil digantikan energi baru terbarukan. Tapi ini memakan waktu. Sedangkan Indonesia sedang mengalami defisit energi yang masih besar. Kalau impor energi kita sudah menurun, ekonomi kita stabil, Rupiah kita akan kuat," pungkas Edi.

Menurut Edi, Indonesia masih memiliki banyak batu bara dan itu merupakan sebuah berkah yang akan menjadi sia-sia kalau tidak dimanfaatkan. "Kalau kita hilangkan itu (sektor bahan bakar fosil) ekonomi kita akan berhenti. Kalau perbankan melarang kredit mining, terus siapa yang membiayai sektor energi?," imbuhnya.

Terkait transformasi pemanfaatan EBT, Edi menambahkan, bukan berasal dari kebijakan keuangan yang dikeluarkan OJK, melainkan kebijakan Pemerintah untuk mengkonversi sumber bahan energi.

"Namun tidak semudah itu memindahkan mining batu bara ke energi baru terbarukan, karena berapa kemampuan kita? untuk energi surya saja, meskipun ini mataharinya banyak tapi mendungnya juga banyak. Artinya Pemerintah perlu kebijakan terpadu," tutup Edi.

Kementerian ESDM Tinjau RU IV Cilacap dan Bagikan Paket Perdana Konverter Kit Bagi Nelayan

Penulis : Hizbul Ridho, Deni Muhtarudin