logo


7 Teknologi Peningkatan Produktivitas Padi

Peningkatkan mutu dan kualitas dari area persawahan sangat perlu dilakukan

14 April 2015 14:48 WIB


JAKARTA, JITUNEWS.COM- Tak dimungkiri jiika Indonesia memiliki harapan yang besar, dalam hal menghasilkan beras guna memenuhi kebutuhan pangan yang cukup bagi populasi yang terus meningkat. Bila hal tersebut terpenuhi, tentunya swasembada pangan akan tercapai, sehingga kran impor pun akan terutup rapat.

Mahasiswa IPB Ciptakan Robot untuk Bantu Pekerjaan Petani

Meski demikian, lahan Indonesia tidak dapat meningkat secara signifikan tanpa adanya perbaharuan di sektor sumber daya alamnya. Karena itu, peningkatkan mutu dan kualitas dari area persawahan yang ada merupakan hal yang sangat penting dilakukan.

Ahli pertanian dari Universitas Brawijaya Prof. Kuswanto mengatakan, inovasi dalam teknik menanam padi berperan untuk meningkatkan mutu dan kualitas dari area persawahan.


Bayer Kembangkan Varietas Padi Hibrida Arize 6444 Gold yang Tahan BLB

Kuswanto menjabarkan, ada tujuh teknologi peningkatkan produksi padi, yaitu intensifikasi budi daya (SRI), sistem tanam jajar legowo, penggunaan padi hibrida, teknologi padi C4, pemanfaatan energi matahari, memaksimalkan proses fisiologis tanaman, dan pengelolaan hama penyakit.

Pertama, teknologi intensifikasi budi daya atau metode SRI (system of rice intensification) dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki teknologi budi daya dan meningkatkan produktivitas lahan, sehingga produksi tinggi.

Dampak positif dari metode SRI adalah kemampuan mengurangi pengaruh efek rumah kaca karena dilakukannya pengaturan pengairan yang kemudian mampu mengurangi produksi gas metana (CH4) penyebab efek rumah kaca.

Kedua, teknologi jajar legowo merupakan rekayasa teknik tanam dengan mengatur jarak tanam antar rumpun dan antar barisan. Teknologi ini cocok untuk varietas adaptif tanaman rapat dan diklaim dapat meningkatkan hasil gabah serta populasi tanaman.

Ketiga, penggunaan padi hibrida dengan memanfaatkan kelebihan heterosis. Menurut Kuswanto, apabila budi dayanya tepat, hasilnya dapat maksimal atau mencapai lebih dari 10 ton per hektare.

Keempat, teknologi padi C4 yang pada saat ini masih pada taraf pengembangan. Penelitian terbaru di Taiwan telah berhasil memasukkan gen pengontrol C4 pada padi. Secara teori, hasil minimal adalah 33 persen lebih tinggi dari padi C3. Dengan teknik budi daya intensif, hasilnya bisa lebih tinggi lagi, kata Kuswanto.

Kelima, teknologi pemanfaatan energi matahari sebagai sumber utama bumi. Pemanfaatan energi matahari dapat maksimal dapat meningkatkan hasil sampai 150 persen.

Keenam, memaksimalkan proses fisiologis tanaman. Proses fisiologis ditentukan oleh kesehatan tanaman. Apabila proses fisiologis maksimum, maka pertumbuhan tanaman akan maksimum pula sesuai genetiknya, tidak mudah terserang hama penyakit dan lebih toleran terhadap kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan.

Ketujuh, teknologi pengelolaan hama penyakit yang dapat mencegah kehilangan hasil padi dan memutus siklus hidup hama.

Tim Pengawalan SPIP Dukung Tercapainya UPSUS SIWAB

Penulis : Christophorus Aji Saputro
×
×